Wali Kota Andi Harun, Dorong Identitas Kolektif dalam Seminar Kebangsaan IKAMI Sulsel

Sekretariat Daerah.

7 bulan yang lalu Dilihat : 781 Kali
Share:
Wali Kota Andi Harun, Dorong Identitas Kolektif dalam Seminar Kebangsaan IKAMI Sulsel
SAMARINDA, KOMINFONEWS – Dalam rangka memperingati hari lahir ke-64, Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia (IKAMI) Sulawesi Selatan (Sulsel) Cabang Samarinda menggelar seminar kebangsaan bertema “Kehidupan Sebagai Penopang Peradaban & Ketahanan Nasional”. Kegiatan berlangsung di Aratula Ballroom, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperinda) Kota Samarinda, Jalan Dahlia pada Rabu (01/10/2025) malam.
Wali Kota Samarinda, Dr. H. Andi Harun, yang hadir sebagai narasumber, mengawali penyampaian materi dengan permohonan maaf karena terlihat agak lelah dan masih mengenakan pakaian dinas lengkap. Sejak pagi hingga malam, ia menjalani rutinitas padat, namun tetap hadir menyampaikan materi dengan penuh semangat.
Sebagai sosok dengan kemampuan public speaking yang mumpuni dari pengalaman politik dan birokrasi, Andi Harun juga dikenal sebagai dosen ilmu hukum serta kerap menjadi khatib maupun penceramah. Gaya penyampaiannya selalu hidup, diselingi humor segar yang membuat audiens serius menyimak tanpa merasa jenuh.
Menyinggung tema seminar, Andi Harun menjelaskan bahwa “Kehidupan Sebagai Penopang Peradaban & Ketahanan Nasional” erat kaitannya dengan kebudayaan. Mengutip Samuel P. Huntington dalam bukunya "The Clash of Civilizations", ia menuturkan bahwa benturan peradaban masa depan bukan lagi ideologi, melainkan budaya dan identitas. “Bangsa yang gagal menjaga budaya akan kehilangan daya tawar dalam peradaban global,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Indonesia dengan beragam suku, agama, dan budaya harus menjadikan perbedaan sebagai kekuatan persatuan, bukan perpecahan.
“Solidaritas sosial tidak hanya dibangun melalui aturan dan kekuatan, tetapi juga dengan simbol budaya. Masyarakat memiliki identitas kolektif yang membentuk ketahanan sosial,” ungkapnya, mengutip pemikiran Clifford Geertz dalam *The Interpretation of Cultures* (1973).
Menurut Andi Harun, untuk mempertahankan kebudayaan dan ketahanan nasional diperlukan tiga poin utama, yakni:
1. Pilar persatuan dan integrasi.
2. Filter globalisasi.
3. Ketahanan non-militer (kemampuan menghadapi ancaman non-bersenjata, seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi, dan informasi).
Ia menegaskan, seluruh anak bangsa harus membangun identitas kolektif agar persatuan dan kesatuan semakin kokoh. “Kebudayaan adalah fondasi peradaban dan ketahanan nasional; ia menjaga identitas sekaligus membuka jalan bagi kemajuan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Andi Harun juga menyampaikan kebanggaannya karena Samarinda kini memiliki sekolah unggulan bertaraf internasional, yakni Sekolah Terpadu Samarinda (SD, SMP, dan SMA) yang baru saja diresmikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., pada 30 September 2025.
Sekolah Terpadu Samarinda dinilai sebagai bukti nyata dukungan Pemkot terhadap program nasional “Menuju Generasi Emas 2045”. Selain fasilitas lengkap, sekolah ini diisi siswa-siswi terbaik serta tenaga pengajar bertaraf internasional yang dipilih melalui seleksi ketat.
Dengan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, para siswa diharapkan mampu bersaing secara global, tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan tetapi juga fasih berbahasa internasional.
Menutup penyampaian materinya, Wali Kota Andi Harun kembali menekankan pentingnya membangun identitas kolektif di Samarinda dan Kalimantan Timur. Identitas kolektif yang kokoh, menurutnya, akan mengantarkan daerah ini menuju kesejahteraan. Ia mengajak seluruh suku, baik asli maupun pendatang, untuk berkolaborasi, memiliki rasa bangga, serta rasa memiliki Kalimantan Timur demi kemajuan bersama.
Andi Harun juga menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada IKAMI Sulsel yang merayakan milad dengan kegiatan bermanfaat. Ia menilai seminar, diskusi publik, dan forum sejenis akan memberikan pertukaran informasi dan pengetahuan yang berharga, bukan sekadar seremonial semata. (MAF/KMF-SMR | FOTO: BAY/DOKPIM)